WDTS de KKN Bagusan 2014
Kuda berlari, menari dan melompat.
Ditunggangi prajurit nan gagah perkasa.
Menjaga semesta dari gelap gulita.
Om om jahat datang!
Membangkitkan nafsu dunia.
Membisiki dengan janji.
Siapa yang tak tergoda?
Akhirnya....
Seseorang tergerak melawan hati.
Hati yang selalu membenci.
Dengan berani melindungi permata.
Bertempur demi yang berharga.
Sebuah budaya.
-raw
Kopi Yang Tergantung
Sebuah perjalanan membawa dua orang sahabat hingga ke tepian sungai Venesia di Italia. Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata keduanya ingin melepaskan lelah dan kepenatan, mengunjungi sebuah kafe untuk minum secangkir kopi, suatu hal yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Italia. Setelah memilih salah satu sudut yang nyaman untuk melepas kepenatan hari itu, keduanya memesan secangkir kopi ekspresso sambil mengamati para pengunjung lokal yang datang ke tempat tersebut.
Selang
beberapa waktu seorang laki-laki masuk untuk memesan kopinya. Uno café,
uno suspeso satu kopi, satu digantung, demikian ucapnya. Lalu bartender
menyerahkan secangkir kopi padanya dan menggantung secarik kertas di
dinding. Laki-laki itu menghabiskan secangkir kopi yang dipesannya namun
membayar dua cangkir kopi kepada bartender. Dengan santai ia
meninggalkan kafe itu. Pemandangan ini mengundang perhatian dua orang
sahabat yang sedang duduk di pojokan menyaksikan kejadian itu. Tidak
beberapa lama kemudian dua orang pengunjung lain datang, menyebutkan
pesanannya: duo café, uno suspeso- dua cangkir kopi, satu digantung.
Bartender kembali menyiapkan pesanan mereka, menyodorkan dua cangkir
kopi dan menggantung secarik kertas di dinding. Kedua orang tadi
menghabiskan dua cangkir pesanannya, namun membayar tiga cangkir kopi
dan meninggalkan kafe itu.
Pemandangan
menarik ini semakin mengundang rasa penasaran dalam hati keduanya.
Lebih heran lagi ketika mereka dikagetkan oleh kehadiran pengunjung
selanjutnya. Seorang lelaki berpakaian kumal dan lusuh, dengan suara
berat mengucapkan pesanannya:”uno suspeso – satu yang digantung”, maka
dengan cekatan si bartender mulai meracik secangkir kopi, menyajikannya
bagi sang tamu. Yang menarik, si tamu menghirup dan menikmati kopinya
lalu pergi berlalu tanpa membayar sepeser pun. Selepas kepergian tamu
tersebut, bartender menarik salah satu dari potonganpotongan kertas yang
digantungnya di dinding tadi, merobeknya kemudian melemparkan ke kotak
sampah dimana di sana ternyata sudah bertumpuk robekan-robekan kertas
serupa. Pemandangan serupa terus berlanjut sepanjang hari, kadang ada
yang datang memesan kopi dan membayar lebih dari yang di minumnya namun
adapula tamu-tamu yang datang dan menikmati secangkir kopi tanpa
membayar sedikitpun.
Lama-kelamaan
pahamlah kedua sahabat tadi bahwa di manapun di seluruh dunia ini
selalu ada makanan atau minuman yang sesungguhnya bukanlah suatu
kemewahan namun mungkin bagi sebagian orang menjadi barang mewah yang
tidak mampu mereka beli. Permasalahannya makanan atau minuman itu adalah
sesuatu yang sangat penting dan berarti bagi masyarakat dalam kultur
tersebut. Sepiring gudeg bagi orang Jogja, semangkuk coto Makassar bagi
orang Makassar, sepotong pempek kapal selam bagi masyarakat Palembang
adalah hidangan sehari-hari yang tak mungkin bisa lepas dari keseharian
mereka. Bahkan budaya menikmati secangkir teh mengantarkan masyarakat
Jepang pada seremoni yang begitu panjang. Begitupun secangkir kopi atau
capuccino bagi masyarakat Italia adalah pelambang budaya yang sangat
lekat dengan mereka serupa dengan budaya minum kopi bagi masyarakat Aceh
atau orang Manggar di Belitung. Begitu pentingnya kopi bagi mereka
hingga bagi sebagian besar masyarakatnya tiada hari yang akan mereka
lewati tanpa secangkir kopi. Namun tak bisa dipungkiri di masa ini di
mana ketimpangan sosial begitu terasa sehingga, jangan harap mereka bisa
membeli kemewahan dalam secangkir kopi yang bagi sebagian masyarakat
lainnya hanya setara dengan uang receh yang ada di dompet tebal mereka.
Akhirnya menjadi sebuah esepakatan tak tertulis di sana agar
orang-orang yang tak berpunya bisa menikmati secangkir kopinya maka
sebagian orang lain yang memiliki kelapangan rezeki akan membayar satu
atau dua cangkir lebih setiap merekamenikmati kopinya hari itu. Satu
komponen yang tidak bisa dilupakan adalah peran bartender yang membuat
‘sistem transparan’ tentang berapa banyak kopi yang akan dibagikan
secara gratis hari itu dengan menggantung kertas-kertas bergambar
secangkir kopi di dinding agar ‘para peminta’ kopi tak harus
berpayah-payah memohon atau meminta haknya. Tak membuat mereka merasa
menjadi seorang pengemis atau peminta-minta. Tanpa bertanya ia bisa
segera tahu apakah masih ada tersisa kopi yang bisa dinikmatinya secara
gratis hari itu, dan siapapun akan bisa dengan langkah tanpa beban masuk
ke kafe untuk memesan secangkir kopi tanpa harus khawatir apakah dia
akan mampu membayarnya atau tidak. Merasakan nyamannya masuk ke sebuah
restauran, meminta pesanannya dan dilayani layaknya orang-orang berada.
Sebenarnya inilah unsur terpenting dalam konsep ‘Berbagi’ bagi sesama,
dimana kita benar-benar memanusiakan orang yang akan menerima bantuan
ataupun sedekah dari kita.
Setiap
tahun kita disuguhi pemandangan pedih saat menjelang hari raya dimana
sebagian orang kaya akan membagikan kupon pada ratusan orang miskin yang
mengharuskan mereka berbaris berdesak desakkan, berpeluh menunggu
berjam-jam di bawah terik mentari, kadang terhimpit dan terjatuh di
dorong dorong untuk mendapatkan selembar amplop berisi selembar dua
puluh ribuan, bagian dari zakatnya. Jika ada acara untuk anak yatim maka
kita akan melihat pemandangan khas barisan panjang mereka mengantri
sekotak makanan. Bukankah hidup mereka sudah cukup perih untuk ditambahi
perasaan malu karena harus menengadahkan tangannya meminta sesuatu yang
sebenarnya adalah hak mereka dalam bagian rezeki milik si Berpunya.
Ada
sebuah kisah yang sangat masyhur diihwalkan bahwasanya Khalifah Umar RA
menolak untuk dibantu mengangkat sekarung gandum yang akan diberikannya
pada seorang janda miskin yang terpaksa merebus batu untuk mendiamkan
tangisan anak-anaknya yang kelaparan. Pundak sang Khalifah menjadi saksi
keteguhan Beliau dalam menolong orang yang lemah dengan memberikan
kehormatan tertinggi kepada mereka, justru karena mereka patut
mendapatkannya ketika menerima bantuan, bahkan sesampainya Sang Khalifah
di tempat keluarga miskin yang ditolongnya itu Beliau tidak segan segan
turun tangan membantu menyajikan gandum itu dan menghidangkannya pada
anak-anak yatim miskin tersebut. Karena sesungguhnya harga diri itu ada
pada semua orang, maka bisa jadi orang miskin yang akan kita bantu
merasa berat hatinya dengan cara yang kita pilih saat menolong mereka.
Untuk itu memuliakan mereka saat memberi bantuan, memilih cara yang
sesuai adab dan membuat mereka tidak terpaksa harus mengemis pada
sesuatu yang memang menjadi haknya adalah sebuah adab yang harus kita
lakukan karena termasuk hal-hal yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW.
Sumber:
‘Kopi yang Tergantung’ oleh Astri Katrini Alafta di majalah Mata Air, vol.I, no.1 (Jan-Peb-Maret 2014) (http://www.majalahmataair.com/article/2)
‘Kopi yang Tergantung’ oleh Astri Katrini Alafta di majalah Mata Air, vol.I, no.1 (Jan-Peb-Maret 2014) (http://www.majalahmataair.com/article/2)
Susi dan Skripsi
Begitu santernya menteri perikanan dan kelautan kita yang baru saja terpilih masuk dalam kabinet kerja Bapak Jokowi dan JK cukup membuat penuh halaman media. Bahkan putri beliau yang sedang menempuh pendidikan pilot di Swiss ikut kecipratan menjadi perbincangan publik karena kebetulan saja dia berparas cantik jelita. Dalam pengangkatannya menjadi menteri, banyak sekali kritisi yang beliau terima, baik karena latar belakang pendidikan beliau yang hanya mentok S2 (SD, SMP), ataupun karena kebiasaan 'nyleneh' beliau.
Diluar kebiasaan beliau yang dinilai kurang patut, saya pribadi sangat iri dengan bu susi ini. Bagaimana tidak? Pertama saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang merasa terbelenggu dengan tugas akhir, yang kedua pada usianya yang masih 18 tahun beliau sudah dibilang menjadi orang yang produktif, dan yang ketiga bu susi sudah pernah menikah tiga kali dan sekalipun saya belum. #PrayForRandy
Masalah pendidikan memang masalah yang sangat pelik. Sangat wajar apabila seseorang dengan pendidikan rendah diragukan kemampuan nya. Saat kita memposisikan diri sebagai pemilik suatu perusahaan, apalagi selain ijasah yang menjadi patokan pada seleksi awal? Fenomena Susi ini mungkin memang terbilang cukup langka. Dengan pendidikan hanya 9 tahun beliau diangkat menjadi seorang menteri, orang yang mengatur dan membuat kebijakan sebuah bidang di suatu negara. Apa yang sebenarnya beliau bisa lakukan dengan pendidikan ala kadarnya tersebut? Rasa penasaran membawa saya untuk mengetikan keyword "perlajaran smp kelas 9" pada mesin pencari google. Hasilnya cukup membuat saya tersentak dan berfikir. Berikut materi SMP kelas 9 yang saya kutip dari zenius.net :
Matematika SMP kelas 9 - KTSP 2006
Bab 1 - Kesebangunan dan Kekongruenan
Bab 2 - Bangun Ruang Sisi Lengkung
Bab 3 - Statistika
Bab 4 - Peluang
Bab 5 - Bilangan Berpangkat
Bab 6 - Barisan dan Deret Bilangan
Fisika SMP kelas 9 - KTSP 2006
Bab 1 Listrik Statis
Bab 2 Listrik Dinamis
Bab 3 Energi dan Daya Listrik
Bab 4 Kemagnetan
Bab 5 Tata Surya
Biologi SMP kelas 9 - KTSP 2006
Bab 1 Sistem Ekskresi Pada Manusia
Bab 2 Sistem Koordinasi dan Alat Indera Pada Manusia
Bab 3 Sistem Reproduksi Pada Manusia
Bab 4 Kelangsungan Makhluk Hidup
Bab 5 Pewarisan Sifat
Bab 6 Bioteknologi
Bahasa Inggris kelas 9 - KTSP 2006
Chapter 1 - 5 (entahlah meterinya tentang apa)
Bahasa Indonesia kelas 9 - KTSP 2006
15 Bab (kepanjangan nanti kalo diuraikan, hehe)
(Bila kita hitung dari tahun lahir Bu Susi 1965, beliau menempuh pendidikan SMP pada sekitar tahun 1980. Pada tahun itu digunakan kurikulum 1975, akan tetapi saya belum dapat menemukan materi pelajaran yang diberikan pada kurikulum tersebut. Oleh karena itu saya kemudian sekedar menggunakan sampel dari kurikulum KTSP 2006)
Terlepas dari kurikulum yang digunakan dan pelajaran IPS yang tidak di UN kan bisa kita amati bahwa ternyata banyak yang telah kita pelajari namun tidak kita pahami dengan sungguh-sungguh. Bahkan apabila ditanyakan kembali soal materi tersebut mungkin saya sendiri belum tentu bisa menjawabnya. Bisa jadi karena kita tidak benar-benar menggunakannya. Nah kemudian mari kita perhatikan dari materi tersebut dan saya akan membaginya kedalam 3 pertanyaan:
1. Ilmu apa yang mungkin Susi aplikasikan dari pendidikannya untuk menjalankan usahanya?
2. Cukupkah bekal tersebut untuk menjalankan tugas sebagai menteri?
3. Seberapa penting kah pendidikan sebenarnya?
Untuk menjawab 3 pertanyaan tersebut saya membuat sebuah pertanyaan sederhana yang coba saya simulasikan sendiri sebagai seorang susi dan seorang lulusan SMP biasa yang kemudian lanjut SMA.
Soal :
Susi mempunyai 100 ekor ikan tongkol segar dengan harga Rp. 1000,- per ekornya. Selama seharian ternyata hanya 70 ekor ikan yang terjual. Karena ikan tidak akan segar lagi apabila lebih dari satu hari maka ikan tersebut susi masak saja sendiri dan menjual ikan baru keesokan harinya. Berapa nilai yang susi dapat dari kerja kerasnya selama satu hari tersebut?
Jawab :
Lulusan SMP biasa yang kemudian lanjut SMA:
Profit : 70 x Rp. 1.000,00 = Rp. 70.000,-
Rugi : 30 x Rp. 1.000,00 = Rp. 30.000,-
Susi : Rp. 70.000,00 + Nilai investasi kepuasan pelanggan. + kepuasan diri sendiri + pengalaman (sok tau ya? hanya susi yang bisa menjawabnya deh, ^^)
Dari simulasi diatas dapat kita simpulkan bahwa keberpihakan saya lah yang paling berpengaruh.
Sehingga hal tersebut sebenarnya buang - buang waktu saja. *ngacir~
Ternyata tidak banyak pelajaran SD sampai dengan SMP yang berkaitan dengan bidang beliau. Dapat kita lihat dengan jelas bahwa ilmu yang digunakan Susi mungkin adalah ilmu hitam. Yang saya maksud disini adalah ilmu yang memang tidak diajarkan di sekolah, yang beliau pelajari sendiri entah di pulau apa. Seorang lulusan Sekolah Menengah Pertama tersebut mungkin hanya perlu menggunakan ilmu matematikanya untuk berdagang. Dan menggunakan ilmu bahasa inggris yang paling dasar untuk menikah dengan 3 orang asing bermodal frasa "I Love You". Sungguh sakti sekali bukan?
Merangkak dari seorang pengepul ikan. Kemudian dalam penjualannya yang fantastis pengepul ikan tersebut membutuhkan transportasi pesawat terbang. Lalu ilmu manajemen tanpa gelar dan entah dari mana datangnya itu menjadikannya punya bisnis pesawat terbang. Di bisnis pesawat terbang, beliau mungkin tidak ingin terus menerus mendatangkan pilot asing. Lalu dibukalah sekolah pilot. Pesawat yang beliau miliki sering kali disewa untuk keperluan pemetaan foto udara dan lidar. Sekolah geodesi pun tidak, namun hanya dengan modal pesawatnya ia bahkan membuka konsultan pengukuran sendiri yang seharusnya menjadi bidang saya. Sebuah ironi, namun tidak dipungkiri lagi beliau mampu menentukan nasibnya sendiri.
Kemudian untuk kelayakannya menjalankan tugasnya sebagai menteri saya tidak ingin banyak berkomentar. Namun, apabila ada masalah saya yakin beliau pasti akan mencari solusinya dengan sungguh - sungguh. Pengalaman lah yang menjadi guru terbaik beliau. Ketekunannya membuat beliau bertahan. Tidak diragukan lagi lah pastinya. Bukannya mengelok-elokan, namun tentu saja begitu bila pembandingnya adalah saya(atau Anda?).
Ternyata muncul pernyataan klasik dari mencuatnya kasus Ibu Susi ini, "Buat apa sekolah tinggi - tinggi? Toh yang sekolah tinggi banyak yang nganggur juga. Si susi aja lulus SMP bisa jadi Menteri.". Pernyataan tersebut tentu tidak benar, walaupun dalam beberapa kasus bisa juga dibenarkan. Karena pendidikan tinggi bukanlah sekedar mencari ilmu, apalagi ijazah. Menurut saya pendidikan tinggi lebih sebagai proses pendewasaan dan membangun cara berfikir yang lebih maju. Dan bagaimanapun juga cara menilai orang lain paling mudah ya lihat dulu ijazahnya. Bisa apa kamu?? Mana buktinya?? (#nowplaying Jagostu - Mau Tak Mau)
Dalam kasus ibu Susi ini bisa dibilang tergolong penyakit langka. Beliau mungkin saja dewasa terlalu cepat karena mengidap semacam Schizophrenia kesuksesan sehingga memiliki imajinasi yang tinggi yang beliau kira itu nyata dan akhirnya beliau tidak sadar mana yang nyata dan tidak, kemudian beliau tidak peduli dengan itu semua dengan menganggap semuanya nyata dan akhirnya benar- benar menjadi nyata. (sfx:jeng jeng jeng!!)
Lalu apakah pendidikan itu penting? Jawabannya, "Ya, jelas penting! Biarkan bu Susi dengan dunianya, dan saya dengan skripsinya".
-raw
[Lagi] Memulai Menulis
Sentilan memori akan sahabat saya dengan quote andalannya akhirnya kembali menggerakan jemari ini untuk merangkai kata.
Terhitung tiga kali sudah saya memulai untuk menulis di blog dan tidak pernah menyelesaikan apa yang saya mulai (kebiasaan buruk nih, jangan ditiru ya..).
[1] Blog pertama saya buat pada saat masih menempuh pendidikan di SMA, itulah saat - saat asik menceritakan kisah - kisah pada masa puber. Dan akhirnya saya musnahkan karena saya sendiri geli membacanya. Alaaaay!
[2] Memakai domain berbayar dan host sendiri biar lebih kece. Kemudian saya mencoba menulis lagi, pada blog kedua saya mengubah format isi tulisan menjadi lebih sedikit dewasa (bukan cerita dewasa lho..). Memakai domain berbayar dan host sendiri biar keliatan kece. Kebanyakan tentang hidup, berat lah pokoknya. Dan musnah karena membeli domain secara ilegal dilanjutkan penghapusan hosting tanpa pemberitahuan. Sejarah pun hilang begitu saja. Sedih.
[3] Lanjut membuat blog ke-tiga, dengan format yang sama berisi konten - konten review tentang musik, film, buku dan beberapa kisah - kisah perjalanan. Sedikit dibebani sejumlah aktivitas hingga minim tulisan. Domain habis, malas memperpanjang. End.
Blog saya kali ini ada judulnya lho. Judulnya, "The Randymen and the Journey Behind the Stone". Dikarenakan ini hanya sebuah personal blog, ya go with the flow saja lah, daripada sesumbar bikin konsep ini itu tapi gak jalan kan ya, hehe. Akhir kata doakan saja saya bisa istiqomah. ^^
"...Tanpa menulis, kamu akan hilang dalam masyarakat dan dilupakan oleh sejarah..." -WNR
Langganan:
Postingan (Atom)



Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances