Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Susi dan Skripsi
Begitu santernya menteri perikanan dan kelautan kita yang baru saja terpilih masuk dalam kabinet kerja Bapak Jokowi dan JK cukup membuat penuh halaman media. Bahkan putri beliau yang sedang menempuh pendidikan pilot di Swiss ikut kecipratan menjadi perbincangan publik karena kebetulan saja dia berparas cantik jelita. Dalam pengangkatannya menjadi menteri, banyak sekali kritisi yang beliau terima, baik karena latar belakang pendidikan beliau yang hanya mentok S2 (SD, SMP), ataupun karena kebiasaan 'nyleneh' beliau.
Diluar kebiasaan beliau yang dinilai kurang patut, saya pribadi sangat iri dengan bu susi ini. Bagaimana tidak? Pertama saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang merasa terbelenggu dengan tugas akhir, yang kedua pada usianya yang masih 18 tahun beliau sudah dibilang menjadi orang yang produktif, dan yang ketiga bu susi sudah pernah menikah tiga kali dan sekalipun saya belum. #PrayForRandy
Masalah pendidikan memang masalah yang sangat pelik. Sangat wajar apabila seseorang dengan pendidikan rendah diragukan kemampuan nya. Saat kita memposisikan diri sebagai pemilik suatu perusahaan, apalagi selain ijasah yang menjadi patokan pada seleksi awal? Fenomena Susi ini mungkin memang terbilang cukup langka. Dengan pendidikan hanya 9 tahun beliau diangkat menjadi seorang menteri, orang yang mengatur dan membuat kebijakan sebuah bidang di suatu negara. Apa yang sebenarnya beliau bisa lakukan dengan pendidikan ala kadarnya tersebut? Rasa penasaran membawa saya untuk mengetikan keyword "perlajaran smp kelas 9" pada mesin pencari google. Hasilnya cukup membuat saya tersentak dan berfikir. Berikut materi SMP kelas 9 yang saya kutip dari zenius.net :
Matematika SMP kelas 9 - KTSP 2006
Bab 1 - Kesebangunan dan Kekongruenan
Bab 2 - Bangun Ruang Sisi Lengkung
Bab 3 - Statistika
Bab 4 - Peluang
Bab 5 - Bilangan Berpangkat
Bab 6 - Barisan dan Deret Bilangan
Fisika SMP kelas 9 - KTSP 2006
Bab 1 Listrik Statis
Bab 2 Listrik Dinamis
Bab 3 Energi dan Daya Listrik
Bab 4 Kemagnetan
Bab 5 Tata Surya
Biologi SMP kelas 9 - KTSP 2006
Bab 1 Sistem Ekskresi Pada Manusia
Bab 2 Sistem Koordinasi dan Alat Indera Pada Manusia
Bab 3 Sistem Reproduksi Pada Manusia
Bab 4 Kelangsungan Makhluk Hidup
Bab 5 Pewarisan Sifat
Bab 6 Bioteknologi
Bahasa Inggris kelas 9 - KTSP 2006
Chapter 1 - 5 (entahlah meterinya tentang apa)
Bahasa Indonesia kelas 9 - KTSP 2006
15 Bab (kepanjangan nanti kalo diuraikan, hehe)
(Bila kita hitung dari tahun lahir Bu Susi 1965, beliau menempuh pendidikan SMP pada sekitar tahun 1980. Pada tahun itu digunakan kurikulum 1975, akan tetapi saya belum dapat menemukan materi pelajaran yang diberikan pada kurikulum tersebut. Oleh karena itu saya kemudian sekedar menggunakan sampel dari kurikulum KTSP 2006)
Terlepas dari kurikulum yang digunakan dan pelajaran IPS yang tidak di UN kan bisa kita amati bahwa ternyata banyak yang telah kita pelajari namun tidak kita pahami dengan sungguh-sungguh. Bahkan apabila ditanyakan kembali soal materi tersebut mungkin saya sendiri belum tentu bisa menjawabnya. Bisa jadi karena kita tidak benar-benar menggunakannya. Nah kemudian mari kita perhatikan dari materi tersebut dan saya akan membaginya kedalam 3 pertanyaan:
1. Ilmu apa yang mungkin Susi aplikasikan dari pendidikannya untuk menjalankan usahanya?
2. Cukupkah bekal tersebut untuk menjalankan tugas sebagai menteri?
3. Seberapa penting kah pendidikan sebenarnya?
Untuk menjawab 3 pertanyaan tersebut saya membuat sebuah pertanyaan sederhana yang coba saya simulasikan sendiri sebagai seorang susi dan seorang lulusan SMP biasa yang kemudian lanjut SMA.
Soal :
Susi mempunyai 100 ekor ikan tongkol segar dengan harga Rp. 1000,- per ekornya. Selama seharian ternyata hanya 70 ekor ikan yang terjual. Karena ikan tidak akan segar lagi apabila lebih dari satu hari maka ikan tersebut susi masak saja sendiri dan menjual ikan baru keesokan harinya. Berapa nilai yang susi dapat dari kerja kerasnya selama satu hari tersebut?
Jawab :
Lulusan SMP biasa yang kemudian lanjut SMA:
Profit : 70 x Rp. 1.000,00 = Rp. 70.000,-
Rugi : 30 x Rp. 1.000,00 = Rp. 30.000,-
Susi : Rp. 70.000,00 + Nilai investasi kepuasan pelanggan. + kepuasan diri sendiri + pengalaman (sok tau ya? hanya susi yang bisa menjawabnya deh, ^^)
Dari simulasi diatas dapat kita simpulkan bahwa keberpihakan saya lah yang paling berpengaruh.
Sehingga hal tersebut sebenarnya buang - buang waktu saja. *ngacir~
Ternyata tidak banyak pelajaran SD sampai dengan SMP yang berkaitan dengan bidang beliau. Dapat kita lihat dengan jelas bahwa ilmu yang digunakan Susi mungkin adalah ilmu hitam. Yang saya maksud disini adalah ilmu yang memang tidak diajarkan di sekolah, yang beliau pelajari sendiri entah di pulau apa. Seorang lulusan Sekolah Menengah Pertama tersebut mungkin hanya perlu menggunakan ilmu matematikanya untuk berdagang. Dan menggunakan ilmu bahasa inggris yang paling dasar untuk menikah dengan 3 orang asing bermodal frasa "I Love You". Sungguh sakti sekali bukan?
Merangkak dari seorang pengepul ikan. Kemudian dalam penjualannya yang fantastis pengepul ikan tersebut membutuhkan transportasi pesawat terbang. Lalu ilmu manajemen tanpa gelar dan entah dari mana datangnya itu menjadikannya punya bisnis pesawat terbang. Di bisnis pesawat terbang, beliau mungkin tidak ingin terus menerus mendatangkan pilot asing. Lalu dibukalah sekolah pilot. Pesawat yang beliau miliki sering kali disewa untuk keperluan pemetaan foto udara dan lidar. Sekolah geodesi pun tidak, namun hanya dengan modal pesawatnya ia bahkan membuka konsultan pengukuran sendiri yang seharusnya menjadi bidang saya. Sebuah ironi, namun tidak dipungkiri lagi beliau mampu menentukan nasibnya sendiri.
Kemudian untuk kelayakannya menjalankan tugasnya sebagai menteri saya tidak ingin banyak berkomentar. Namun, apabila ada masalah saya yakin beliau pasti akan mencari solusinya dengan sungguh - sungguh. Pengalaman lah yang menjadi guru terbaik beliau. Ketekunannya membuat beliau bertahan. Tidak diragukan lagi lah pastinya. Bukannya mengelok-elokan, namun tentu saja begitu bila pembandingnya adalah saya(atau Anda?).
Ternyata muncul pernyataan klasik dari mencuatnya kasus Ibu Susi ini, "Buat apa sekolah tinggi - tinggi? Toh yang sekolah tinggi banyak yang nganggur juga. Si susi aja lulus SMP bisa jadi Menteri.". Pernyataan tersebut tentu tidak benar, walaupun dalam beberapa kasus bisa juga dibenarkan. Karena pendidikan tinggi bukanlah sekedar mencari ilmu, apalagi ijazah. Menurut saya pendidikan tinggi lebih sebagai proses pendewasaan dan membangun cara berfikir yang lebih maju. Dan bagaimanapun juga cara menilai orang lain paling mudah ya lihat dulu ijazahnya. Bisa apa kamu?? Mana buktinya?? (#nowplaying Jagostu - Mau Tak Mau)
Dalam kasus ibu Susi ini bisa dibilang tergolong penyakit langka. Beliau mungkin saja dewasa terlalu cepat karena mengidap semacam Schizophrenia kesuksesan sehingga memiliki imajinasi yang tinggi yang beliau kira itu nyata dan akhirnya beliau tidak sadar mana yang nyata dan tidak, kemudian beliau tidak peduli dengan itu semua dengan menganggap semuanya nyata dan akhirnya benar- benar menjadi nyata. (sfx:jeng jeng jeng!!)
Lalu apakah pendidikan itu penting? Jawabannya, "Ya, jelas penting! Biarkan bu Susi dengan dunianya, dan saya dengan skripsinya".
-raw
Langganan:
Postingan (Atom)

Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances